Perkembangan Seni Rupa Anak

 Seni merupakan suatu hasil dri kreasi kita sebagai manusia dengan menciptakan sesuatu yang bisa dinikmati oleh orang terutama karena keindahan gerak tubuh,suara yang merdu dan hasil karya cipta yang dapat mewakili perasaan si pembuatnya. Seni biasanya diciptakan hanya oleh orang yang memang mempunyai jiwa kreativitas yang tinggi terutama dalam menciptakan suatu hal yang baru. Kemampuan sesorang bisa dilihat dari bagaimana dia menciptakan suatu karya diterima atau tidak tetap harus berkarya setiap hari karena seni itu merupakan panggilan dari jiwa terutama lahir dari minat seseorang.


Seni rupa anak merupakan suatu ekspresi peserta didik di dalam membuat suatu karya dari kepribadian diri anak. Di sekolah anak diberikan materi pembelajaran tidak hanya menulis, berhitung , dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru tetapi mereka juga di berikan kebebasan untuk menciptakan suatu karya. Kemampuan peserta didik dalam menciptakan berbeda ada yang bertipe ekspresif, naturalis, dan dekoratif. Penggolongan karya anak menurut Victor Lowenfeld terbagi menjadi 2 yaitu : tipe visual dan tipe haptik

  • Tipe Visual adalah gambar anak yang menunjukkan daya pikir anak lebih realistis (anak bisa menggambar sesuai dengan obyek yang dilihat). Gambar yang diungkapkan mementingkan kesamaanya karya dalam bentuk yang idihayatinya serta memperhitungkan proporsinya secara tepat. Penguasaan ruang telah dirasa dengan cara membuat kecil objek gambar bagi benda yang jauh. Begitupun dengan warna penguasaan warna, pemakaian warna sesuai dengan warna pada bendanya. contoh gambar anak gunung, sawah, matahari dan burung gambar ini seakan merupakan gambar yang selalu digambar anak terutama jika peserta didik diberikan tugas menggambar keindahan alam sekitar.  

  • Tipe Haptik adalah merupakan kebentukan anak yang lebih visual-emosional atau upaya penggambaran secara subyektif yang berisi tentang ekspesi pribadi dalam merespon lingkungannya. Benda yang digambarkan merupakan reaksi emosinal melalui perabaan dan penghaytan di luar pengamatan visual. Biasanya benda yang dianggap penting digambarkan lebih penting dibuat dengan ukuran lebih besar dibandingkan dengan benda yang kurang penting. Dalam menulis Haptik ini anak lebih mengungkapkan perasaan dari dalam pelukisnya dan rasa secara spontan contoh gambar anak haptik dimana menggambar manusia lebih besar daripada rumah karena manusia dianggap lebih penting. Ini didasarkan oleh cara berpikir anak tersebut karena mereka hanya menggambar dari yang mereka anggap penting


Sifat lukisan /Gambar anak  mempunyai keunikan tersendiri dibandingkan oleh orang dewasa hal ini dikarenakan anak masih memiliki keaslian dalam tata ungkpan emosinya dalam bentuk gambar atau karya. Menurut Soesatyo (1994 : 32-33) bahwa sifat lukisan anak sebagai berikut :
  • Ideographisme merupakan ekspresi berdasarkan pengertian dan logika anak. Contoh : Anak melukis muka manusia dari samping, meskipun dalam kenyataan penglihatan, matanya nampak sebuah saja, namun bagi seorang anak mata manusia dua maka di gambarlah dua mata dari samping, kaki kambing juga dilihat dari samping hanya dua akan tetapi mereka menggambar menjadi 4.

  • Steorotif atau otomatisme ini mrupakan penggambaran bentuk benda secara berulang-ulang dengan ukuran yang monoton dan gejala ini dinamakan steorotif contoh : figur manusia yang diulang dalam bentuk yang sama meski pada kenyataan mereka berbeda, bunga yang sama diulang jadi bisa disimpulkan jika stteoritif ini mode berulang.

  • Gejala Finalitas ini menggambarkan peristiwa yang mengandung unsur ruang, benda dan waktu. Anak biasanya akan melukiskan manusia atau makhluk lainnya dalam gerak. Penggambaran suatu peristiwa yang sedang terjadi divisualisasikan dengan membuat objek gambar yang diulang ulang namun tidak semua bagian atau anggota badan dilukis. Hanya yang perlu-perlu saja atau yang dirasakan penting dalam tema lukisan. Contoh : Ibu yang sedang menyapu, dilukis hanya satu tangan saja yang memgang sapu itu sedang tangan yang tidak berperan tidak ditulis atau tangan yang lebih berperan lebih besar dan lebih mendapat tekanan.

  • perebahan atau lipatan dimana sifat ini merupakan peristiwa yang lucu dan logis buat anak-anak. disebut juga sifat tegak lurus atau sifat rabatemen. Benda apa saja yang berdiri tegak pada suatu garis dasar akan dilukis tegak lurus pada garis dasar tersebut meskipun garis dasaritu berbelok atau miring arahnya. Akibatnya semua benda tampak rebah atau malah terjungkir.

  • Transparan merupakan kebiasaan atau kecenderungan anak menggambarkan hal-hal atau peristiwa pada ciri ke tiga ini adalah penggambaran yang tembus pandang. Contoh : anak melihat kucing makan ikan maka anak akan menggambarkan kucing dimana di dalam perutnya ada ikan yang telah dimakan. mereka melukiskan semua yang dia pikirkan dan ia mengerti meskipun ada beberapa benda objek yang berada di dalam ruang atau tempat tertutup.

  • Juxtaposisi merupakan sifat pemecahan masalah ruang (dalam keadaan jauh dekat) dalam bidang datar, diatasi dengan dasar pemikiran praktis. Anak melukis benda atau objek yang jauh di bagian atas kertas sedang yang dekat du bagian bawah. Bertebar namun artistic, mirip lukisan bali.

  • simetris ( setangkep ) dalam melukis objek sering timbul gejala atau hasrat untuk melukis hal-hal yang asimetris menjadi simetris contoh : dua pohon besar di kiri dan di kanan dua buah gunung kembar dengan matahari di tengah, setangkai bunga dengan daun kiri dan di kanan.

  • proposisi (perbandingan ukuran) anak-anak lebih mementingkan proposisi nilai dari pada fisik. hal-hal yang dianggap lebih penting dibuat lebih besar atau lebih jelas.

  • Lukisan bersifat cerita (naratif) dimana lukisan /gambar ini dibuat anak dengan menggabungkan perasaan atau gejolak jiwa lukisan ini merupakan cerita anak bukan sekedar mencoret sebagai aktivitas motorik atau gerak anatomis saja maka perlu ditanggapi secara wajar dan dalam sikap menerima serta menghargai.


Comments

Popular posts from this blog

Lagu Sayang dan makna bahasa jawa

Teaching Writing

Evaluasi pembelajaran dalam literasi